Lewat Pernikahan, Masyarakat Suku Tobelo Jaga Kelestarian Tanaman Bete
Halua Bete adalah makanan/camilan berbahan pangan lokal bete (talas/keladi) dan gula aren yang diolah menjadi seperti wajik atau dodol. Makanan ini wajib ada dalam acara pernikahan suku Tobelo, Maluku Utara. Dalam konteks pernikahan Suku Tobelo, kehadiran Halua Bete membawa filosofi yang mendalam yaitu sebagai bentuk penghormatan (hantaran), simbol keharmonisan dan keeratan hubungan keluarga, dan ketahanan dalam menghadapi kehidupan. Sifat halua yang lengket dan manis menjadi doa agar hubungan kedua mempelai selalu rukun, erat, dan tidak mudah terpisahkan oleh badai rumah tangga.
Penggunaan bete sebagai bahan dasar makanan ini melambangkan harapan agar pasangan baru memiliki daya tahan (resiliensi) yang tinggi dalam mengarungi bahtera hidup bersama, karena tanaman bete dianggap tanaman pangan yang kuat karena dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah.
Saat ini pangan lokal seperti bete sering diberi stigma sebagai makanan kelas bawah, makanan yang dikonsumsi hanya saat masa krisis atau makanan orang sakit sehingga banyak generasi muda atau masyarakat merasa gengsi untuk mengonsumsi atau menyajikan bete dalam keseharian mereka. Putusnya regenerasi pengetahuan dalam mengolah pangan lokal juga menjadi alasan pangan lokal ini tidak dikenal oleh anak muda saat ini.
Penggunaan bete sebagai elemen sakral dalam pernikahan masyarakat Tobelo, sesungguhnya sedang menjalankan strategi pelestarian tanaman untuk ketahanan pangan yang visioner dan memperkenalkan pangan lokal kepada anak cucu. Setiap suapan halua bete di hari pernikahan adalah sebuah jaminan bahwa di masa depan, anak cucu kita masih bisa melihat tanaman ini tumbuh subur di tanah nusantara.